bendera

Minggu, 04 Oktober 2026    23:54 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

OPINI
 


Presiden Sebagai Panglima Integritas: Saatnya Reformasi Pengawasan Internal Berbasis GRC Nasional


Tim Red,    12 November 2025,    08:16 WIB

Presiden Sebagai Panglima Integritas: Saatnya Reformasi Pengawasan Internal Berbasis GRC Nasional
Komjen Pol (P) Drs. Didi Widayadi, MBA

Oleh: Komjen Pol (Purn.) Drs. Didi Widayadi, MBA


Pengawasan yang Tersebar, Integritas yang Terserak

Salah satu persoalan klasik dalam tata kelola pemerintahan kita adalah pengawasan yang berjalan tanpa arah tunggal. Setiap instansi memiliki unit pengawas sendiri, setiap laporan audit berhenti di batas sektoral, dan hasilnya sering tidak terkoneksi dengan keputusan strategis di tingkat nasional. Akibatnya, fungsi pengawasan kehilangan kekuatan dasarnya: bukan lagi sebagai sistem peringatan dini, melainkan sekadar pemeriksaan rutin administratif.

Dalam sistem presidensial yang ideal, pengawasan adalah instrumen Presiden untuk menjamin keutuhan pemerintahan. Presiden memegang mandat konstitusional untuk memastikan seluruh jalannya pemerintahan bersih, efektif, dan dapat dipercaya publik.


Namun, praktik yang masih terfragmentasi membuat arah pengawasan nasional belum sepenuhnya mencerminkan satu kendali tunggal di bawah kepemimpinan Presiden.

Membangun Platform Pengawasan Berbasis GRC

Reformasi pengawasan perlu ditopang oleh paradigma baru: Governance, Risk, and Compliance (GRC). Melalui kerangka ini, pengawasan tidak lagi dimaknai sebagai mencari kesalahan, tetapi sebagai arsitektur tata kelola risiko nasional yang membantu Presiden menjaga integritas sistem pemerintahan secara menyeluruh.

Dalam pendekatan ini, lembaga seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) berperan sebagai integrator nasional, menghubungkan hasil audit dan evaluasi dari berbagai kementerian dan pemerintah daerah.

Dengan dukungan teknologi digital dan kecerdasan buatan, pengawasan dapat bergerak dari sekadar reaktif menjadi prediktif dan kolaboratif — mendeteksi potensi penyimpangan sejak dini sebelum kerugian terjadi.

Sentralisasi, Desentralisasi, atau Dekonsentrasi?

Pertanyaan yang kerap muncul: bagaimana model ideal pengawasan dalam negara yang besar seperti Indonesia? Apakah disentralisasi di pusat, diserahkan ke daerah, atau dibangun secara hibrid?

Beberapa negara memberikan pelajaran berharga:

Ketiganya menunjukkan satu prinsip utama: pengawasan nasional harus berada dalam satu sistem kepemimpinan integritas, dengan garis koordinasi yang jelas ke kepala negara.

Model yang paling relevan bagi Indonesia adalah dekonsentrasi pengawasan—Presiden tetap menjadi pusat kendali kebijakan integritas, sementara pelaksanaannya dilakukan secara profesional oleh lembaga teknis yang memiliki kompetensi dan independensi operasional.

Dari Reformasi Struktural ke Transformasi Nilai

Perubahan sistem pengawasan tidak hanya menyentuh aspek kelembagaan, tetapi juga menyentuh nilai dasar pemerintahan yang berintegritas. Kita perlu meninggalkan budaya pengawasan yang berorientasi pada ketakutan atau formalitas, menuju budaya pengawasan yang berbasis pembelajaran dan akuntabilitas publik.

Langkah ini bisa disebut sebagai creative reform—pembaruan yang menata ulang peran, tanggung jawab, dan koordinasi tanpa menghapus esensi kinerja kementerian dan lembaga yang ada.

Dengan dukungan satu dashboard nasional pengawasan berbasis data, Presiden dapat memantau efisiensi program, ketepatan penggunaan anggaran, dan tingkat risiko kebijakan secara menyeluruh.

Presiden sebagai “Chief Integrity Officer” Bangsa

Di era keterbukaan dan digitalisasi, kepemimpinan tidak hanya diukur dari seberapa cepat mengambil keputusan, tetapi juga dari seberapa jujur dan transparan dalam mengawasi pelaksanaannya. Itulah sebabnya, peran Presiden dalam sistem pengawasan harus berevolusi dari simbol pengendali kekuasaan menjadi penjamin moral pemerintahan — Chief Integrity Officer of the Nation.

Kepemimpinan seperti inilah yang akan memperkuat kepercayaan publik, memulihkan disiplin birokrasi, dan mengembalikan esensi pelayanan publik sebagai amanah, bukan sekadar jabatan.

Pengawasan internal bukan hanya soal audit, melainkan jantung dari tata kelola kenegaraan.

Negara yang kuat adalah negara yang mampu mengawasi dirinya sendiri sebelum diawasi pihak lain. Dan pengawasan yang efektif hanya bisa berjalan bila Presiden menjadi pengendali arah dan penjaga integritasnya.

Dengan membangun Presidential GRC Platform, Indonesia dapat menata ulang sistem pengawasan menuju satu ekosistem yang lebih jujur, efisien, dan berkeadilan.

Dari sinilah integritas pemerintahan dimulai—bukan di ruang sidang, bukan di atas kertas laporan, melainkan di hati kepemimpinan yang memegang teguh amanah bangsa.

 

**Penulis adalah Mantan KA BPKP, Lemhanas Kra 29, Mantan Irwasum Polri dan Founder DW-GPT Institute


banner
NASIONAL
img
Minggu, 04 Oktober 2026
Jakarta - Kasum TNI Letjen TNI Richard Tampubolon, S.H., M.M., membuka Kejuaraan Tinju Amatir Rakyard Rumble Piala Panglima TNI Tahun 2026 dalam rangka HUT ke-81 TNI di Bengkel Space SCBD,...
img
Minggu, 04 Oktober 2026
Jakarta - Kejuaraan tinju amatir Rakyard Rumble Piala Panglima TNI 2026 tidak sekadar menjadi ajang adu kemampuan di atas ring, tetapi juga membawa pesan penting tentang keseimbangan antara prestasi olahraga...
img
Minggu, 04 Oktober 2026
Kalimantan Utara - Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie meninjau Yonif TP 921/Alang Impang, Kabupaten Malinau, dan Yonif TP 922/Upun Taka, Kabupaten Tana...
img
Sabtu, 03 Oktober 2026
Jakarta - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meninjau gladi bersih Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI Tahun 2026 di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (3/10/2026). Peninjauan dilakukan...
img
Sabtu, 03 Oktober 2026
Jakarta - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri acara pisah sambut Kapolri dari Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di Mabes Polri, Jakarta Selatan,...
img
Sabtu, 03 Oktober 2026
Jakarta - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri pelantikan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) dan Komisaris Jenderal Polisi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakil...

MEDIA INDONESIA NEWS